Selasa, 14 Juli 2009

Syair Cunta Rumi

Whirling Dervishes
(Para Darwis yang Menari/Berputar)

“Orang harus mendobrak dan mematahkan batas-batas pemikiran untuk menyaksikan kekuatan cinta yang tertinggi, dan untuk mencerap kebesaran Allah Tercinta”


Mari Kemari, datang... Datanglah Mari Kemari Datanglah
Siapa Pun Dirimu. Pengelana, Peragu, dan Pecinta
Mari... Kemari Datanglah Tak Penting Kau Percaya atau
Tidak… Mari, kemari … Datanglah Kami Bukanlah Caravan
Yang Patah Hati... Atau Pintu-Pin tu dari Keputus- asaan,
Mari Kemari Datanglah... Meski Kau Telah Jatuh Ribuan
Kali, Meski Kau Telah Patahkan Ribuan Janji, Mari
Kemari… Datang. . . Datanglah Sekali Lagi…

( Mawlana Jalaludin Rumi )


Kau dan Aku
Bahagia saat kita duduk di pendapa, Kau dan aku,
Dua sosok dua tubuh namun hanya satu jiwa, Kau dan aku,
Harum semerbak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan
Pada saat kita memasuki taman, Kau dan aku,
Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama
Bagai bulan kita bagikan cahaya terang bagi mereka
Kau dan aku, tak terpisahkan lagi, menyatu dalam nikmat tertinggi
Bebas dari cakap orang, Kau dan aku
Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa bahagia, Kau dan aku
Sungguh ajaib, Kau dan aku, yang duduk bersama di sudut rahasia
Pada saat yang sama berada di Iraq dan Khurasan, kau dan aku.

Aku tak sama dengan Sang Raja, bahkan jauh dari itu
Sekalipun dari Dia kuperoleh cahaya dalam penampakan diri-Nya
Kesamaan bukanlah dalam hal bentuk dan esensi; air menjadi sejenis dengan tanah dalam tumbuhan
Karena jenisku berbeda dengan Raja-Ku, egoku fana’ dalam Ego-Nya
Karena egoku fana’ maka Dia sajalah yang tinggal (baqa’);
Aku mengepul penaka debu di bawah kaki kuda-Nya
Jiwa menjadi debu, hanya di atas debulah jejak kuda menjadi cap kaki-Nya

Arah Politik Golkar Pascapilpres

Metode penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei mengindikasikan kekalahan telak pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura ini tak hanya kalah dari SBY-Boediono, melainkan juga dari Megawati-Prabowo.

Mengapa dan ke mana arah politik Partai Golkar pasca-Pilpres 2009? Seperti dipublikasikan berbagai media, atas dasar penghitungan cepat tersebut pasangan JK-Wiranto hanya memperoleh sekitar 12% suara atau hanya seperempat suara SBY-Boediono (60%) dan tak sampai separuh perolehan suara Mega-Prabowo (26%).

Padahal pada pemilu legislatif, gabungan perolehan suara Partai Golkar (14,6%) dan Hanura (3,6%) lebih dari 18%. Kegagalan JK-Wiranto sebenarnya bukan sepenuhnya kegagalan sang ketua umum partai masing-masing, Golkar dan Hanura. Secara publik, JK dan Wiranto telah menunjukkan komitmen keberpihakan mereka yang cukup jelas bagi bangunan Indonesia yang lebih mandiri ke depan.

Namun tampaknya mesin politik Golkar tidak sungguh-sungguh bekerja untuk mem-back up penampilan JK-Wiranto. Hal ini terkait kontroversi pencalonan Kalla dan dukungan setengah hati elite Golkar yang lain sehingga JK-Wiranto gagal untuk sekadar mempertahankan basis konstituennya dalam pemilu legislatif.

Empat Kecenderungan

Apabila analisis sementara di atas benar, persoalan berikut yang bakal melanda Golkar adalah perbedaan sikap dan pilihan politik para elitenya dalam menghadapi pemerintahan SBY yang memenangi Pilpres 2009. Paling kurang ada empat arah kecenderungan politik Golkar pascapilpres. Pertama, sebelum Musyawarah Nasional (Munas) Golkar pada Oktober 2009, mungkin tidak ada perubahan sikap dan pilihan politik partai beringin.

Posisi Kalla sebagai wakil presiden meniscayakan Golkar berlaku "rendah hati" dalam menghadapi masa transisi pemerintahan SBY pascapilpres. Artinya, Golkar bersifat menunggu, apakah pada akhirnya akan ada "undangan politik" dari SBY untuk bergabung kembali ke dalam pemerintahan baru atau tidak.

Kedua, sebelum munas pada Oktober mendatang Golkar mungkin menegaskan kembali komitmennya untuk membangun koalisi besar parlemen bersama-sama dengan Hanura, PDI Perjuangan, dan Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto. Sikap dan pilihan politik seperti ini cenderung diambil apabila tidak ada indikasi bahwa SBY mengajak Golkar bergabung kembali dalam koalisi baru pascapilpres.

Ketiga, setelah munas pada Oktober 2009, Golkar bergabung kembali ke dalam pelukan politik pemerintahan SBY jika diasumsikan bahwa pada saat itu terpilih Ketua Umum Golkar yang baru sebagai pengganti Kalla. Kemungkinan seperti ini cenderung besar apabila ketua umum terpilih ternyata sebelumnya telah menjadi salah seorang menteri kabinet yang ditunjuk SBY. Keempat, setelah momentum munas, sebagaimana lazimnya watak asli Golkar, secara institusi partai beringin tetap berada di luar pemerintahan, tetapi beberapa tokohnya direkrut oleh SBY sebagai anggota kabinet baru.

Tergantung Pengganti Kalla

Oleh karena itu, salah satu faktor penting yang turut menentukan sikap dan pilihan politik Golkar pascapilpres adalah figur elite Golkar pengganti Kalla sebagai ketua umum. Artinya, arah politik Golkar dalam menghadapi pemerintahan SBY tampaknya ditentukan oleh siapa yang menjadi pengganti Kalla, apakah Aburizal Bakrie, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Surya Paloh, Agung Laksono, atau tokoh Golkar yang lain.

Apabila pengganti Kalla adalah Sri Sultan HB X ataupun Surya Paloh, ada kemungkinan Golkar memilih bersikap oposisi terhadap pemerintahan SBY. Namun jika ketua umum baru partai beringin adalah Aburizal Bakrie ataupun Agung Laksono, kemungkinan Golkar kembali ke pangkuan politik SBY bisa jadi cukup besar.

Akan tetapi kemungkinan Golkar menganut politik dua-muka, sebagaimana watak dasar partai warisan Orde Baru ini, tidak mustahil hal itu menjadi sikap dan pilihan politik partai ini. Itu berarti secara organisasi Golkar tetap berada di luar pemerintahan, tetapi secara individu beberapa elite beringin terlibat dalam kabinet SBY.

Pertarungan Menarik

Atas dasar uraian singkat di atas, tampak bahwa peristiwa politik paling menarik di tubuh Golkar pascapilpres adalah dinamika pertarungan para elite partai beringin untuk merebut jabatan ketua umum. Sebagaimana fenomena pasca-Pilpres 2004, kemungkinan besar Golkar akan memundurkan sedikit jadwal munasnya dari bulan Oktober menjadi November atau awal Desember 2009.

Strategi pengunduran jadwal munas diperlukan partai beringin agar memperoleh kesempatan melihat respons Presiden SBY terhadap Golkar dalam penyusunan kabinet baru yang akan menggantikan Kabinet Indonesia Bersatu. Apabila SBY, seperti watak personalnya yang cenderung peragu dan kompromistis, mengajak beberapa tokoh Golkar terlibat dalam kabinet baru, sikap politik Golkar mungkin menjadi kompromistis dan cenderung abu-abu.

Sebaliknya, jika kabinet baru SBY tidak melibatkan seorang pun elite partai beringin, desakan untuk beroposisi terhadap pemerintah hasil Pemilu 2009 tampaknya cukup besar. Apalagi jika yang terpilih sebagai ketua umum adalah Sri Sultan HB X ataupun Surya Paloh.

Namun saya sendiri berpendapat, ada baiknya Golkar belajar menjadi oposisi seperti dikemukakan Sri Sultan HB X. Toh, sikap dan pilihan politik sebagai oposisi tak kalah terhormat dibandingkan dengan posisi sebagai pemerintah. Persoalannya, jika Golkar terus-menerus mewariskan politik dua-muka, yang berlangsung pada akhirnya adalah investasi oportunisme politik yang tidak berujung.

Muara dari pilihan pelembagaan oportunisme semacam ini adalah semakin kerdilnya Golkar di masa depan. Pengalaman kegagalan Pilpres 2004 serta Pileg dan Pilpres 2009 semestinya menjadi pelajaran bagi segenap elite partai beringin bahwa rakyat kita semakin cerdas. Era politik perselingkuhan elite partai dengan kekuasaan secara berangsur telah berakhir bersamaan dengan terkuburnya Orde Baru.(*)

Syamsuddin Haris
Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI

Minggu, 20 Januari 2008

Membaca Kehidupan; Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1429 H

Oleh : Moh Fauzi Ibrahim


Tahun 1428 H telah berakhir dan datanglah tahun baru 1429 H. Belum genap satu bulan yang lalu, dunia baru saja menyambut tahun baru masehi 2008 dengan penuh gegap gempita, pesta pora di mana-mana, kembang api menandai tenggelamnya tahun 2007 dan datangnya tahun baru 2008 dan kini umat Islam menyambut tahun baru 1428H. Menyadari hakikat tahun baru hijrah, umat Islam sebagai umat terbaik dan sepatutnya menjadi suri tauladan yang baik kepada orang lain haruslah mempunyai cara dan sikap yang menjunjung tinggi ajaran wahyu dalam menyambut datangnya tahun baru hijrah, agar dapat membedakan dengan cara dan adat orang lain.
Sebagai Ummat Islam, Ummat Nabi Muhammad SAW, sepatutnya kita menyambut pergantian tahun yang ditentukan oleh Allah sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam menjalankan Syariat Islam. Cara memperingati tahun baru seperti yang Rasulullah SAW sabdakan : " Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Alloh ta'ala menjadikan kaffarot / tertutup dosanya selama 50 tahun.
Pada awal tahun Hijriyah itulah permulaan fajar Islam mulai menyingsing dengan di awali dengan Hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sabiqulan awwalun dari Kota Makkah ke Kota Madinah. Itulah tonggak sejarah Islam ,Ummat Islam, dicanangkan ke seluruh dunia. Kedatangan tahun baru Islam agak sepi akibat begitu lama umat Islam terjajah dan terlalu membesar-besarkan penggunaan kalendar masehi dibandingkan tahun hijrah dalam kehidupan sehari-hari. Budaya ini menyebabkan umat Islam sendiri tidak ingat bulan-bulan dalam Islam kecuali Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah saja.
Inilah antara lain usaha besar kaum kuffar merusak serta menjauhkan umat Islam dari ruh Islam, termasuk memastikan umat Islam tidak menghayati tahun hijrah dalam kehidupan. Agak jarang umat Islam mengucapkan selamat tahun baru, umat Islam sudah terjajah oleh budaya kuffar. Mungkinkah umat Islam mampu memperkasai kembali penggunaan tahun baru hijrah. Jawabannya ada pada tindakan dan kesungguhan umat Islam dalam merealisasikannya. Jika dalam pemakaian tahun pun susah kita berhijrah maka mungkinkah kita mampu hijrah dari sistem jahiliah kepada sistem Islam.
Marilah kita berhijrah dari jahiliah kepada Islam, kufur kepada iman, lemah kepada kuat, sesat kepada kebenaran, kegelapan kepada cahaya, dosa kepada pahala, mundur kepada maju. Oleh karenanya marilah insaf bahwa jika kita ingin mengembalikan ruh hijrah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w dan para sahabat sehingga Islam mampu merajai dunia maka kita harus kembali kepada Islam dalam secara ”kaffah” atau totalitas dalam semua aspek kehidupan. Sebagaimana kita ketahui bersama hijrah Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam dari Mekah ke Madinah telah membawa perubahan besar terhadap peradaban umat manusia, perubahan dari zaman jahiliah menuju peradaban madaniah di bawah naungan cahaya Illahi dengan kata lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan perubahan yang paling fundamental dalam kehidupan, dari kehidupan yang tidak memiliki peradaban ke arah kehidupan yang penuh rahmat ampunan dan kasih sayang.
Teladan yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua, memberikan inspirasi penting untuk membangun sebuah peradaban baru di masa yang akan datang, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana beliau mulai membangun peradaban Islam dari tataran induvidual menuju tataran sosial yang lebih baik. Pada tataran individual Rosullalah menegakkan hakidah nafsiah yaitu menegakkan hakidah dalam diri setiap insan. Hal ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang kita rencanakan untuk berubah justru harus dimulai dengan melakukan perubahan dari diri sendiri. Perubahan yang kemudian lebih meluas membangun komitmen bersama kearah pembentukkan sebuah tatanan kehidupan yang diterapkan pada masyarakat Madinah.
Rosullalah shallalahu ‘alaihi wasallam membangun sebuah konsep sya’riah istima’yah yaitu konsep hukum kemasyarakatan yang meliputi penegakkan hukum, sosial, politik dan ketatanegaraan. Dari Madinah lah kita menyaksikan apa yang dikenal dengan persamaan di depan hukum dan pemerintahan, dipraktekkan secara bermartabat dan beradab, dari Madinah pula kita menyaksikan bagaimana hukum ditegakkan secara hugas, demikian juga dengan kerjasama antar kelompok yang berbeda keyakinan agamanya, tentu masih banyak pelajaran berharga yang kita petik dari Rosullalah, karena itulah tidak berlebihan kalau saya menggunakan kesempatan yang sangat membahagiakan ini, untuk menyeruhkan kepada seluruh umat Islam di tanah air agar senantiasa mempelajari, menggali dan mengaktualisasikan semuanya itu dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sekian ragam peristiwa penting Islam, peristiwa hijrah sesungguhnya menempati posisi yang utama. Sebab, peristiwa ini bukan saja menandai babak baru penanggalan Islam yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab, melainkan juga menjadi titik balik peradaban Islam terkonstruksi dengan gemilang. Karena itulah, setiap tahunnya kita memperingati peristiwa hijrah sebagai tahun baru Islam. Harapannya, tentu di samping memutar kembali klise peristiwa fenomenal itu, juga mencoba memunguti makna hijrah secara aktual dan kontekstual.
Puncak kegemilangan sejarah Islam lewat momen hijriyah patut dibilang sebagai sebuah revolusi tanpa kekerasan yang pertama kali dalam sejarah. Dalam waktu yang cukup singkat Muhammad mampu mengubah wajah Kota Madina dari pola masyarakat yang diskriminatif, primordialis-fanatis dan eksklusif menjadi masyarakat yang terbuka, egaliter, dan penuh dengan nilai-nilai persaudaraan. Kota Madina yang awalnya selalu diselimuti oleh pertentangan antarsuku menjadi komunitas yang dipenuhi oleh semangat kolektif untuk membentuk peradaban baru.
Atas kesuksesan ini sangat beralasan bila Michael Hart dalam The 100: A Rangking of The Most Influental Person in History telah menempatkan Muhammad pada urutan pertama. Muhammad tidak hanya sukses membangun peradaban baru Islam tetapi juga mampu mengombinasikan unsur sekuler dan agama dalam satu racikan peradaban Madina. Muhammad tidak hanya tampil sebagai seorang agamawan yang selalu mendermakan pesan spiritualnya, tetapi ia juga tampil sebagai negarawan yang adil dan bijaksana. Islam telah didudukkan tidak hanya sebagai agama yang berisi panduan ritual, tetapi juga sebagai etik-moral yang selalu hidup di tengah masyarakat.
Menyadari keagungan sejarah “hijrah” ini maka tidak khilaf apabila umat Islam menetapkan tahun barunya dengan merujuk pada sejarah hijriyah. Hal ini mempunyai arti bahwa lembaran baru Islam tidak dibuka dengan keagungan seorang tokoh semisal dengan memperingati kelahiran Nabi. Akan tetapi, Islam mengawali setiap lembaran barunya dengan semangat kelahiran peradaban baru Islam di Madina.
Apa yang diharapkan dengan dijadikannya hijriyah sebagai tahun baru Islam? Pada tanggal 1 Muharram 1429 —yang bertepatan dengan 10 Januari 2008—kembali umat Islam memperingati sejarah sucinya. Sudah seribu empat ratus dua puluh tujuh tahun peristiwa ini berlalu. Namun, semenjak itu pula semangat hijriyah tidak pernah usang dimakan zaman karena selalu disegarkan dengan peringatan dan perayaan setiap tahunnya. Oleh karenanya, setiap kali umat Islam merayakan tahun barunya seketika itu pula semangat umat Islam disegarkan.
Setiap tahun kaum muslim kembali diingatkan dengan memori keemasan sejarahnya. Dan, setiap tahun pula semangat dan makna hijriyah ini akan menjadi kekuatan yang merevitalisasi dan mampu mendorong semangat umat Islam. Tentunya semangat hijrah diharapkan mampu menjadi semangat baru bagi umat Islam dalam memulai sejarahnya pada detik ini dan pada masa selanjutnya. Karenanya, makna hijriyah harus terinternalisasi dalam diri kita dan diolah menjadi sikap yang luhur dan dinamis dalam menata masa depan yang lebih baik.
Melihat kenyataan ini Indonesia tampaknya harus menjalani hukum sejarah dari sebuah peradaban. Tentunya bangsa ini tidak memaknai “hijrah” dengan perpindahan fisik layaknya “hijrah”nya Nabi meningalkan Makkah. Yang bisa dilakukan oleh bangsa ini adalah hijrah maknawi. Artinya, bangsa Indonesia butuh semangat “hijrah” dari kemerosotan ekonomi, sosial, politik dan hukum menuju peradaban yang mencerahkan. Peradaban yang lebih menjamin kesejahteraan masyara-kat, keterbukaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Tahun baru hijriyah sudah semestinya menjadi momentum untuk merenungkan kembali eksistensi bangsa Indonesia di titik paling nadir. Untuk itulah, hijriyah yang diperingati oleh umat Islam dan juga bangsa Indonesia kali ini diharapkan menjadi refleksi panjang bangsa ini untuk merajut perubahan yang sebenarnya, yang subtantif, produktif dan populistik. Semangat hijrah akan menjadi modal untuk mengembalikan kegairahan inisiatif perubahan tersebut. Oleh karenanya, sangat rugi dan sia-sia apabila hijriyah yang akan kita peringati bersama hanya sebatas pada refleksi seremonial.
Pada momen ini bangsa Indonesia berkesempatan untuk menguak makna dan semangat hijriyah bagi keberadaban dirinya sendiri. Hijrah berarti pula berubah untuk membangun peradaban baru seperti Nabi meninggalkan Makkah dan membentuk komunitas baru yang berperadaban. Semoga bangsa Indonesia mampu “hijrah” dari penderitaan yang membelitnya menuju bangsa yang berkeadaban.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1429 H.